Isak Tangis Tak Terbendung Ketika Keluarga Besar Yalsa Boutique Berkunjung ke Rumah Singgah C-Four

Isak Tangis Tak Terbendung Ketika Keluarga Besar Yalsa Boutique Berkunjung ke Rumah Singgah C-FourOwner Yalsa Boutique Mommy Emi dan Daddy Ijal saat berkunjung ke Rumah Singgah C-Four Banda Aceh. []

Suasana di Rumah Singgah Children Cancer Care Community atau C-Four Banda Aceh berubah menjadi haru. Isak tangis pun tak terbendung ketika para relawan rumah singgah yang menampung pasien penderita kanker itu menceritakan kondisi C-Four dan kisah-kisah yang dialami para anak-anak penderita kanker yang sedang berjuang untuk mencari kesembuhan dari penyakit mereka.

Kisah perjuangan C-Four dan nasib para penderita kanker itu diutarakan Ratna Eliza yang merupakan Koordinator Rumah Singgah C-Four didampingi relawannya Mirna, saat kunjungan keluarga besar Yalsa Boutique Banda Aceh, pada Selasa sore (26/1/2021).

Dipimpin Siti Hilmi Amirulloh dan Safrizal yang merupakan pemilik Yalsa Boutique, para jajaran staf butik yang menjual baju muslim dan muslimah di Aceh itu berkunjung ke C-Four setelah mendapat kabar adanya para pasien anak penderita kanker yang membutuhkan uluran tangan dalam menjalani pengobatan dan menumpang di Rumah Singgah C-Four. 

Saat menerima kunjungan keluarga besar Yalsa Boutique, Ratna sedikit bercerita kondisi Rumah Singgah C-Four yang telah didirikannya sejak 2014 itu.

"Sejak berdiri dari 2014, lebih kurang 300 lebih anak-anak penderita kanker yang sudah kami tangani, dimana lebih dari setengahnya itu meninggal dunia," ungkap Ratna.

Dalam membantu para keluarga miskin dari berbagai daerah di Aceh yang anaknya menjalani pengobatan kanker di Banda Aceh, Ratna mengatakan mereka tidak memiliki donatur tetap dan tidak berada di bawah naungan pemerintah. Mereka hanya mengandalkan donasi dan bantuan "hamba Allah" yang mengulurkan tangan membantu kebutuhan-kebutuhan di Rumah Singgah itu.

"Terkadang kami pernah di saat pasien lagi ramai di rumah, tiba-tiba beras habis. Tapi Alhamdulillah, ada aja hamba Allah yang datang membantu. Kadang ada yang naruh beras di depan rumah, tapi kami nggak tau itu dari siapa," ungkap Ratna. 

Tak hanya itu, relawan C-Four Mirna juga menceritakan dimana beberapa waktu lalu listrik di rumah singgah yang mereka sewa (kontrak) setiap tahunnya RP16 juta itu juga sempat diputuskan aliran listriknya, karena mereka dinilai telah mencuri arus. Alhasil, mereka harus membayar denda atas tudingan itu, di mana setelah negoisasi, dari Rp19 juta lebih yang harusnya mereka ganti rugi, namun akhirnya diberi keringanan dengan hanya membayar Rp5 juta dengan cara mencicil.

"Belum lunas juga, tapi Alhamdulillah kami bisa nyicil. Kalau ada uang (bantuan donasi) kami harus mengutamakan keburutuhan untuk anak-anak dulu dalam menjalani pengobatan, karena kesembuhan mereka adalah yang paling utama yang harus kami upayakan. Walaupun biaya berobat ditanggung BPJS, ada obat-obat tertentu yang tidak ditanggung dan harus bayar. Kalau keluarga pasien tidak mampu, jika kami bisa bantu maka akan kami bantu sebisanya," ugnkap Ratna.

Ratna mengatakan, C-Four selama ini hanya menerima anak-anak penderita kanker dan rumor dari keluarga miskin yang tidak memiliki tempat tinggal dalam menjalani pengobatan di Banda Aceh. Namun demikian, mereka juga menerima pasien anak dengan penyakit non-infeksi (tidak menular).

"Kalau pasien dewasa kami belum sanggup, karena saya seorang ibu, saya hanya kampu mengangani anak-anak," jelas Ratna.

Meski tidak berada di bawah naungan pemerintah dan tidak memiliki dobatur tetap, Ratna tetap berupaya sebisa mungkin membantu para pasien anak yang menderita kanker dan tumor yang tinggal di rumah itu.

"Walaupun kami sering kesulitan, tapi kami yakin Allah akan selalu membuka jalan. Walaupun terkadang saya sempat patah semangat dan lelah juga, dimana ingin menutup rumah singgah ini. Apalagi tudingan-tudingan yang dilontarkan kepada saya, dimana saya pernah diejek sebagai pengemis elit, padahal saya tidak pernah meminta bantuan ke manapun, apalagi ke pemerintah. Bantuan yang datang itu atas dasar keinginan dari para donatur sendiri yang datang ke mari, malah terkadang ketika kami sudah dibantu, kami tidak tahu nama mereka dan siapa yang memberikan bantuan itu," ungkap Ratna.

Di penghujung pertemuan itu, selain menceritakan berbagai kisah pilu perjuangan C-Four dan anak-anak penderita kanker, Ratna juga menyampaikan harapan dan mimpi para relawan Rumah Singgah C-Four dan penderita kanker penghuni rumah itu. Mereka berkeinginan memiliki rumah singgah permanen, dimana selama ini mereka hanya menyewa setiap tahunnya, bahkan sebelumnya juga sempat berpindah-pindah tempat.

"Insya Allah bantuan yang kakak dan abang-abang berikan ini, akan kami manfaatkan sebaik mungkin untuk kebutuhan anak-anak di rumah singgah ini dalam menjalani pengobatan," ungkap Ratna usai menerima sejumlah bantuan dari pimpinan Yalsa Boutique. 

Sementara itu, Owner Yalsa Boutique yang akrab disama Mommy Emi itu mengatakan mereka akan membicarakan harapan dari Rumah Singgah C-Four kepada para keluarga besar Yalsa Boutique, dimana mereka berencana akan menyisihkan sedikit gaji karyawan setiap bulannya dengan berencana menjadi donatur tetap C-Four.

"Semoga niat ini disetujui semua staf dan karyawan Yalsa, karena walapun saya pemiliknya, saya harus membicarakan hal ini dulu. Semoga saja kami bisa menjadi donatur tetap ke depannya untuk C-Four," ungkap Mommy Emi.

Sementara itu, Daddy ijal yang merupakan suami Mommy Emi ketika ditanyai komentar tidak mampu berkata apapun lagi, dikarenakan anak pertama mereka juga pernah dinyatakan mengidap kenker mata, hingga nyaris dioperasi.

"Tapi alhamdulillah tidak jadi operasi dan akhirnya bisa sembuh," ungkap Daddy Ijal.

Dia hanya berharap, bantuan yang disalurkan oleh keluarga besar Yalsa Boutique dapat bermanfaat untuk Rumah Singgah C-Four.

"Memang bantuannya tidak seberapa dibandingkan yang dibutuhkan rumah singgah ini, tapi semoga saja sedikit membantu. Semoga saja ke depannnya kami ada lagi rejeki dan bisa kembali lagi ke sini," imbuhnya. []

Sumber:Acehonline.co